Ayahku Pria Berseragam

  • Whatsapp
Ayahku Pria Berseragam
banner 468x60

Saya tidak pernah malu pada profesi ayah  yang seorang pegawai PNS dengan pangkat dan golongan yang biasa saja, justru saya teramat bangga dengan profesinya. Di mata kanak-kanak saya saat itu, Ayah terlihat sangat gagah dengan balutan seragam dinas serta aneka atribut yang terpasang di beberapa tempat baju seragamnya.

Read More

Salah satu saat yang paling saya nanti adalah saat di mana Ayah membolehkan saya turut serta melihat beliau bekerja. Ada moment di mana Ayah mendapat tugas untuk memeriksa setiap paket yang diimport demi uji kepatuhan pabean. Membongkar kardus demi kardus, meneliti dengan detil isi dalam setiap paket, lalu mengemas ulang untuk ditera kembali. Garis wajahnya yang tegas terlihat sangat serius dalam apapun aktivitas pekerjaannya.

Di luar profesinya yang menuntut sikap serius nan tegas, Ayah adalah sosok yang sangat humoris. Tak jarang kami berdua dapat tertawa lepas hanya perkara hal yang sepele dan biasa saja.

Teringat kisahnya saat masih menjadi pemuda, berangkat dari kampung kecil, kuliah dengan biaya dari upah beliau menjadi kuli bangunan bertemu dengan Mama yang berasal dari keluarga akademis dan cukup terpandang. Saat mereka menikah, Ayah harus beradaptasi dengan cepat untuk dapat melebur dengan keluarga besar Mama yang saat itu masih tinggal bersama Datuk dan saudara-saudara Mama lainnya. Belum lagi perbedaan budaya, Ayah yang asli Jawa bertemu dengan Mama keturunan Bugis murni.

Maka mulailah timbul benturan demi benturan. Walaupun di akhir masa hidupnya, saya tahu betul betapa kehilangannya Ayah pada sosok Mama. Sampai suatu ketika, penyakit mulai datang menggerogoti tubuhnya. Fisiknya tak mampu lagi menopang semangatnya, terlebih lagi cahaya matanya yang terlihat sangat redup pasca berpulangnya Mama.

Kini setelah lebih dari sepuluh tahun Ayah tiada, saya baru menyadari banyak sekali hal baik yang beliau tanamkan. Nilai yang paling kuat adalah jadilah mandiri dalam segala apapun keadaanmu, pantang meminta bantuan saat nyawamu masih melekat di badan. Hampir di setiap kesusahaan kami, Ayah selalu berhasil melihat sisi-sisi positifnya. Jatuh dan kemudian segera bangkit.

Pantang mengeluh adalah hal berikutnya yang selalu beliau ulang. Kerjakan selalu pekerjaanmu dengan hati, jangan mengeluh sementara banyak orang yang mendamba apa yang kamu miliki hari ini.

Setelah dewasa dengan dua anak yang menjadi amanah Tuhan bagi saya hari ini, barulah saya menyadari bahwa segala pelajaran hidup dan nilai-nilai baik yang Ayah tanamkan menjadi pembentuk pribadi saya hingga saat ini.

Ada banyak kisah sahabat kebaikan saya yang menampar saya tentang artinya berjuang dan pantang menyerah. Mbak Mumun seorang janda yang hampir memasuki usia paruh baya, di tengah tawaran menggiurkan di luar kota tetap bertahan menjadi penjaja lauk dan berkeliling dengan berjalan kaki agar bisa tetap berpenghasilan sembari menjaga kedua orangtuanya yang sudah tak mampu bergerak jauh. Ada pula kisah Mas Riono yang menjadi kuli panggul daripada hidup menjadi penadah bantuan dari orang lain. Merekalah orang-orang besar yang membuka mata dan hati saya.

Saya merasa kehilangan sahabat ketika Ayah menghembuskan napas terakhir tepat di hadapan saya. Tak terhitung lagi ajaran yang beliau tanamkan yang baru saya sadari saat kepergiannya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, saya hanya ingin Ayah tahu bahwa saya sangat bangga padanya. Saya menghargai Ayah bukan sekadar profesinya melainkan pada nilai hidup yang ia tularkan. Saya bangga sekali padanya, Ayah saya yang seorang Pegawai Negeri Sipil.

 

Manokwari, 5 Januari 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *