Dawai tak Bernada

  • Whatsapp
banner 468x60

“Aku tidak butuh pertolonganmu! Aku hanya ingin rasa sakit ini berhenti!” pekikku.

“Neng? Dendam itu hanya sebuah kata, gak punya makna apa-apa, hanya akan memenuhi semua hatimu dengan lubang hitam.”

Read More

“Kamu sendiri yang perlu menempatkan rasa tak nyaman itu dengan bijak. Beri sedikit ruang untuk dirimu menghargai hatimu sendiri hingga tak tersisa tempat untuk meradang pada sesuatu yang akan menurunkan martabatmu. Beri jeda pada hatimu, Neng. Tempat untuk istirahat dari lelah yang selama ini kamu pikul sendiri?” ada helaan nafas, ketika ia sejenak berhenti bicara.

“Tuhan ada, Neng! Tuhan selalu ada bersama hati yang terluka,” suara tegasmu kembali kudengar.

“Kenapa harus, Akang yang lebih tenang? Kenapa justru kamu yang lebih ikhlas, Kang?” jeritku.

“Karena kamu pun pasti melakukan hal yang sama kan, Neng? Jika keadaannya terbalik? Kamu juga akan hadir untuk menemani setiap lara yang menimpa salah satu dari kita?” suara Kang Syarif terdengar melunak.

Selalu seperti itu dialog yang terjadi di antara kami. Aku pemudi usia tanggung yang masih didominasi sisi egois dan keakuan yang tinggi serta jiwa muda yang selalu tak mau kalah beradu dengan lembut dan arifnya Kang Syarif, lelaki itu selalu punya jawaban untuk menekan semua keangkuhanku.

***

Benar yang Kang Syarif katakan, apapun keadaanya kami adalah dua orang kawan yang tak mungkin tega membiarkan salah satu terluka melebih batas yang dapat kami tanggung. Seperti aku yang takkan sanggup meninggalkan Kang Syarif sekalipun dalam keadaan terlemahnya setelah kecelakaan motor dua tahun yang lalu. Tabrak lari di sore yang sepi saat ia melintas jalan menuju tempat label rekaman yang memproduksi single lagu untuk band yang dibentuk bersama kawan-kawan karibnya.

Kang Syarif baru saja lulus SMA kala itu, karir bermusiknya baru mulai dirintis bersama beberapa kawan seangkatannya. Sebagai pentolan band, banyak syair yang Kang Syarif ciptakan untuk memulai debutnya sebagai anak band.

Pelakunya kabur, meninggalkan Kang Syarif yang terluka cukup parah. Beruntung ada rombongan anak SMA yang  melintas dan menolong membawa Kang Syarif ke rumah sakit terdekat. Nahasnya, kecelakaan tersebut turut pula mengubur mimpinya. Tangan yang biasa digunakan memetik dawai gitar sudah tak mampu lagi berfungsi maksimal. Hantaman keras membuat beberapa syaraf yang terganggu, bukan saja melemahkan fisik, mentalnya pun turut jatuh. Butuh waktu bertahun-tahun untuk ia pulih dari keterpurukan.

Kekasih yang pergi karena cacat permanen di tangannya, karir sebagai musisi yang karam, teman-teman yang mulai tak peduli. Hanya akulah yang tersisa dari semua yang ia punya.

“Neng? Hidup kita akan baik-baik saja dan akan selalu begitu. Baik sebelum maupun sesudah aku ketemu dia,” suara lembutnya terdengar begitu manis di telingaku. Tangan besarnya mengelus pelan punggungku tanganku. Satu hal yang selalu ia lakukan untuk melunakkan emosiku jika sedikit kusinggung ikhwal mantan kekasih yang turut lari bersama mimpi Kang Syarif sebagai seorang musisi.

Sungguh tak habis pikir pada Tuhan yang bisa menghadirkan sosok Kang Syarif. Pria ini terlalu lemah hati, semudah itu dia bisa memaafkan seseorang yang sudah pergi begitu saja dari hidupnya. Membuat semua mimpinya porak poranda. Bola matanya selalu memancarkan aura teduh, membuatku betah untuk berlama-lama memandangnya. Lelaki inilah yang pertama kali menyapaku ramah di rumah singgah, lalu seketika itulah kami menjadi dua kawan karib. Mungkin karena jarak umurku yang tak terlalu jauh membuatku merasa aman untuk berdekatan dengannya.

Sosok anak kecil dengan gigi tak rapi itu kini beralih menjadi sosok pria dewasa, banyak yang berubah dari kami berdua. Kami lah dua orang penghuni terlama rumah singgah, baik aku maupun Kang Syarif sama-sama memutuskan untuk tetap tinggal di sana. Kalau alasan Kang Syarif sih karena ia ingin membalas budi baik yang selama ini diterimanya dengan membantu ibu panti mengurus segala keperluan rumah singgah, tetapi buatku sepanjang aku masih tetap berada di dekatnya, di manapun itu tak jadi masalah berarti.

Teringat perjumpaan tak sengaja ku dengan Marissa siang tadi di lobi hotel tempat aku bertemu dengan calon nasabahku. Ingatanku tak kan pernah lupa sosok wanita menyebalkan itu. Masih terngiang perkataannya saat ia memutuskan hubungan di saat Kang Syarif masih terbaring lemas di rumah sakit.

“Aku tak sanggup melanjutkan hubungan dengan pria cacat sepertimu, sudah tak ada masa depan bagi kita.”

“Kuharap ini adalah pertemuan terakhir kita!”

“Sepertinya kalian berdua akan menjadi pasangan yang cocok, sudah sama-sama miskin dan sebatang kara. Seorang pria cacat dan gadis udik tak tahu malu, perpaduan yang pas,” suaranya menusuk indra pendengaranku sore itu.

Kata itulah yang selalu kuingat, betapa dia sudah merendahkan kami berdua. Jika saja ada program penghapus ingatan, mungkin nama Marissa akan kuhapus paling pertama, agar aku tak terjebak pada rasa sakit hati yang berkepanjangan. Namun siapa sangka setelah tiga tahun berlalu, kini aku harus berhadapan lagi dengan ular betina ini.

“Lho, kamu Ambar kan? Ambarnya Syarief?” tanya sesosok perempuan yang tiba-tiba saja menghampiriku.

Aku yang masih cukup terkejut, terbata menjawabnya.

“Ya, aku Ambar. Anda?”

“Aku Icha, Marissa.”

“Marissa?”

“Bagaimana kabar Syarif? Dia masih cacat?” senyum miring tercetak jelas di wajahnya.

Baiklah ingatanku membulat sempurna. Inilah si biang kerok yang membuat aku repot mengurus Kang Syarif dengan semua kondisi tidak baiknya saat itu. Kulirik pria yang berdiri di samping Marissa, tangan pria itu melingkari pinggang si ular betina.

“Kami baik dan akan selalu baik,” jawabku diplomatis.

“Baiklah, aku datang hanya sekedar menyapa kawan lama sekaligus memastikan bahwa ini benar kamu.”

***

“Neng? Kamu ngelamun atau ketiduran sih?” ledek Kang Syarif yang menarikku kembali tersadar.

“Sudah lega kan sekarang?” tanyamu dengan senyum yang masih kau pertahankan di akhir tanya sambil sesekali disibaknya anak rambut yang jatuh menjuntai di keningku.

“Iya, Kang. Neng agak lega, udah gak emosi lagi, tadi masih kebawa sebel aja sama si ular betina,” jawabku dengan nada bicara tak setinggi saat kuceritakan pada Kang Syarif pertemuan tak sengajaku dengan Marissa.

“Hush! Pamali anak gadis ngomong jorok,” katamu sembari meletakkan jari tengahmu di bibirku.

Selalu seperti itu, suaranya yang tenang menjadi alat hipnotis paling mujarab untuk mendinginkan emosiku.

Kang Syarif menggeser posisi duduknya, mendekat ke arahku. Kedua tangan besarnya, meraup tangan mungilku, memegang dengan lembut ujung jari tanganku.

Duh, kenapa dadaku merasakan rasa aneh yang semakin kuat, setiap kali mendapat perlakuan manis darinya.

“Neng? Ingat gak ini hari apa?”

Aku menggeleng pelan.

“25 Juni, Neng. Hari pertama kamu datang ke rumah singgah.”

Kularikan mataku pada kalender hadiah dari sebuah pasar swalayan yang tergantung di salah satu dinding ruang tamu rumah singgah kami. Kutemukan angka 25 di sana, tepat seperti yang Kang Syarif katakan.

“Neng, Akang punya sesuatu tapi apapun kado dari Akang, Akang harap tidak akan pernah mengubah keadaan apapun.”

Ditariknya tangan kanan yang sedari tadi masih memegang lembut buku tanganku. Perlahan ia merogoh kantong celana dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

Di tariknya tubuhku mengarah pada tubuhnya hingga kami sempurna duduk saling berhadapan.

“Neng, buat Akang hari ini adalah hari istimewa untuk kita, hari pertama kali kita bertemu di sini. Memulai kisah, melalui banyak air mata, tapi ada juga keringat dan tawa yang kita bagi untuk bisa sampai kita yang saat ini.”

“Lalu,” katamu menjeda.

“Bagaimana jika hari ini kita jadikan hari untuk berdamai dan melangkah ke depan dengan hati yang lebih tenang.”

“Neng, mau terima ini kan?” katamu sembari menyodorkan sebuah kotak merah berisi sebuah cincin manis di dalamnya.

“Jadilah yang terpaksa menerima baik dan burukku dengan tawa,” suaramu lirih.

Sungguh aku tak siap dengan keadaan ini walau aku tak menampik sekian lamanya kebersamaan kami bukanlah tanpa rasa, ada sisi aku sangat mengaguminya, memimpikan ia yang terus hadir untuk melindungiku.

Di saat bunyi tonggeret mulai terdengar jelas dari  kebun samping rumah kami, suara ricuh pun muncul dari balik gordin yang menjadi sekat antara ruang tamu dan area dalam rumah. Sosok ibu panti keluar bersama banyak pasang mata kecil dan jenaka di belakangnya, tersenyum penuh makna padaku.

Genggaman tangan Kang Syarif yang semakin menguat membuat atensiku kembali padanya. Kutarik napas panjang, kututup mataku, kutarik tipis dua garis bibir hingga mungkin tercetak lengkungan samar di sana. Entah dorongan dari mana yang membuat kepalaku menunduk seolah mengangguk. Pekik hamdallah dari ibu dan adik-adik panti menjadi penanda waktu untuk kubuka mata dan menatap haru pada sesosok laki-laki berlesung pipi yang duduk berhadapan denganku ini.

Manokwari, 3 April 2021

 

 

 

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *