Empati Melahirkan Solusi

  • Whatsapp
banner 468x60

Ahhaaaa,

Setelah pekan kemarin saya bercerita ngalor-ngidul yang lagi-lagi bahasannya gak jauh seputar bakat dan passion.

Read More

Di artikel kali ini, saya akan bercerita sedikit berbelok. Yaitu, tentang gimana sebuah empati menjadi bagian dari solusi.

Dalam sebuah diskusi daring melalui materi yang dibawakan oleh para peramu petualangan di camping habituasi Sejuta Cinta Ibu Profesional, di mana kami dibuka wawasannya untuk senantiasa menanam dan menebar benih-benih kebaikan hingga akhirnya apa yang dilakukan ini menjadi bagian dari gaya hidup, terbiasa untuk terus berbuat baik, bahkan kalau perlu, ketagihan untuk terus berbuat baik.

Saya memandang hal ini sebagai suatu cara untuk kita bisa terus mempertajam dan mengolah rasa agar peka akan perubahan sesentif apapun itu terjadi. Ibaratnya, sebuah aliran sungai yang tadinya tenang, tiba-tiba menjadi gemuruh. Bisa jadi sebagai pertanda, ada debit air yang membesar di hulu, entah karena hujan atau karena ada hal di luar kelaziman. Jika kita peka membaca keadaan, kita pun akan jauh lebih bisa untuk mempersiapkan diri. Bisa dalam bentuk menyiapkan payung, segera mencari tempat berteduh, dan menyelatkan beberapa barang berharga.

Analogi seperti inilah yang bisa jadi sedang dilatih pada kami, para peserta Habituasi Sejuta Cinta Ibu Profesional.

Menyadari kekuatan diri, melihat kondisi di sekitar, berkontempelasi dengan bakat, kemampuan, dan kebisaan diri, untuk mampu tanggap membaca situasi sekitar. Ada riak apakah yang berpendar di sekeliling kita, entah dalam jangkauan pelukan kedua tangan kita atau bahkan dalam radius tak terhingga yang bisa kita bayangkan.

Sebagai kaum urban yang hidupnya begitu dimudahkan dengan teknologi, lalu harus moving ke kota tempat tinggal saat ini di mana media daring dimanfaatkan masih seputar update status dan notifikasi yang sifatnya sangat general. Kami cukup terpukau dengan keadaan yang ada.

Belanja daring mungkin menjadi kebutuhan mendesak untuk kami ketika pertama kali menjejak kaki di kota ini. Saat barang-barang dan kendaraan masih dalam perjalanan yang membutuhkan waktu sangat lama untuk tiba di kediamaan kami, marketplace menjadi satu-satunya pilihan untuk memenuhi logistik dan kebutuhan pangan kami.

Dengan pilihan yang tidak cukup banyak, kami cukup bersyukur setidaknya menjadi penyelamat di kondisi darurat. Hanya berbekal foto makanan yang hampir sebagian besar adalah gambar copas dari suatu situs dan sistim pengantaran yang masih manual atau justru diantar oleh sang produsen adalah kondisi yang terjadi saat kemarin dan bahkan hari ini setelah kurang lebih enam bulan kami menetap.

Atas isu tersebut serta sedikit keahlian saya dalam hal fotografi, saya membuat peta garis besar mimpi ke dalam template berikut:

Harapannya, kelak akan ada beberapa cloud kitchen yang dikelola secara profesional, dengan menampilkan galeri berisi etalase produk UMKM, sehingga masyarakat bisa lebih mudah untuk mengakses kekayaan dan potensi daerah. Tidak menutup kemungkinan untuk memperluas skala dan cakupan konsumen hingga ke luar Papua Barat.

 

 

Untuk saat ini, tahap dalam template tersebut masih berada dalam membantu para UMKM dalam hal foto produk mereka agar dapat terlihat lebih menarik dan menjual. Dengan harapan, sedikit meningkatkan omset teman-teman pelaku UMKM dan tampilan produk mereka terlihat jauh lebih menjual dan menarik minat entah para calon konsumen atau calon investor.

 

Manokwari, 17 Maret 2021

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *