June dan Kopi

  • Whatsapp
banner 468x60

Pernah merasakan perasaan terikat yang begitu kuat tapi bukan sama manusia gak?

Hemmmm …. Saya pernah mengalaminya, bahkan beberapa kali.

Read More

Ada suatu peristiwa yang sangat membekas terkait hal di atas. Ketika kami tinggal di Bandar Lampung, kami dikunjungi oleh seeokor kucing peranakan ras himalaya, terlihat kumal, tidak terawat serta mata dan tubuh yang kuyu.  Bermula dengan kebiasaannya tidur di bawah kursi teras kami, kemudian kucing tersebut seolah mengikatkan diri dengan keluarga kami, menjadi bagian dari keluarga. Teman bagi kami semua, berbagi oksigen di rumah yang sama. Kami beri nama dia Bule karena bulu lebatnya dominan berwarna oranye cerah layaknya bule.

Lalu ketika Bule sakit cukup lama, hingga akhirnya menghilang dan diketemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa, kami perlu waktu cukup lama untuk lepas dari masa duka serta siap menerima kedatangan kucing-kucing lain yang tak hanya sekadar singgah di rumah kami.

Idot, salah satu kucing yang menjadi teman kami sata di Pematangsiantar

Peristiwa pun berulang saat kami pindah ke Pematangsiantar, dua ekor kucing yang diberikan oleh seorang kenalan, terpaksa harus kami tinggalkan saat kami harus pindah ke Manokwari karena sangat tidak memungkinkan membawa mereka turut pindah bersama kami. Saat itu Idot dan Imot sudah tinggal hampir satu tahun bersama kami. Butuh waktu sangat lama untuk kami betul-betul ikhlas meninggalkan kedua kucing kembali pada sang pemilik awal.

Empat ekor anak kucing yang menjadi sahabat kami di Manokwari

Ketika menyaksikkan film June & Kopi, perasaan saya betul-betul larut dalam setiap scence dalam film tersebut. Film karya sutradara Noviandra Santosa yang tayang di netflix, saya pikir film ini menjadi film Indonesia pertama yang mengangkat kisah persahabatan antara manusia dan anjing. Mengingatkan saya pada film Hachiko yang menyuguhkan ide cerita yang hampir sama, persahabata antara anjing dan manusia.

Di bintangi oleh duo aktor Indonesia yang namanya sudah cukup mahsyur di jagad akting tanah air. Ryan Delon yang terkenal sebagai artis FTV kali ini berperan sebagai Ale, seorang pekerja cukup sukses dengan karir dan mapan secara ekonomi, memiliki seekor anjing jantan berwarna hitam yang diberi nama Kopi. Ada pula Acha Septriasa seorang komikus, berperan sebagai Aya, istri Ale. Serta bintang cilik Makayla Rose Hili yang melakoni peran sebagai Karin, anak dari pasutri Aya dan Ale.

Kisah bermula dari pertemuan Aya dan seekor anjing putih yang kabur karena kejaran sekelompok anak-anak. Ketika bertemu dengan Aya, anjing tersebut seakan enggan untuk berada jauh dari Aya, mengekori Aya sampai ke rumah.

Aya yang merasa tak tega, berusaha membujuk Ale untuk mengizinkan anjing tersebut tinggal bersama mereka. Akhirnya dengan bujuk Aya, Ale luluh dan membiarkan anjing tersebut, bergabung bersama Kopi yang sudah terlebih dahulu menjadi bagian dari keluarga Aya dan Ale yang kemudian diberi nama June.

Aya dengan rasa adil memberikan kasih sayangnya pada Kopi dan June serta mengajari mereka berdua banyak hal. Kebahagiaan mereka semakin bertambah saat Aya akhirnya mengandung serta melahirkan seorang bayi perempuan yang mereka beri nama Karin. Aya sedari dini mengenalkan Karin pada June dan Kopi. Hingga banyak sekali momen kebersamaan keluarga tersebut di mana June dan Kopi terlibat di dalamnya.

Seperti halnya kedekatannya dengan Aya, June cenderung sangat dekat dengan Karin.

Puncak konflik adalah saat Karin terjebak di tengah hutan karena tersesat saat bermain ketika keluarga tersebut berlibur di pegunungan dan meninggalkan June serta Kopi di rumah. June yang seolah-olah mempunyai firasat ada sesuatu yang tidak baik tengah menimpa Karin. Entah bagaimana perjalanan June yang saat itu berada jauh dari tempat Karin berada hingga dapat menemukan gadis kecil itu yang terjatuh di tengah hutan.

Buat saya, film keluarga ini cukup menguras emosi. Abaikan plot hole dan logika saya yang cukup tidak mampu menjangkau apakah seekor anjing yang terpisah jarang ratusan kilometer dapat menemukan sang tuan seorang diri tanpa bantuan siapapun. Ada beberapa scence yang membuat air mata saya terpaksa mengalir, selain karena akting Acha dan Ryan Delon yang sangat natural dan tak perlu diragukan lagi, tapi lebih pada saya seolah tertular emosi dan merasakan perasaan sayang yang kuat pada hewan peliharaan yang sudah sedemikian dekatnya dalam keseharian kita.

Salah satu adegan cukup sentimental buat saya

Ada beberapa point keren yang saya bisa sajikan untuk Anda semua:

  1. Proses latihan para pemeran June dan Kopi

Untuk bisa menghasilkan rangkaian adegan demi adegan hingga terangkai dalam satu frame dan tersaji di layar pastinya telah melalui rangkaian latihan yang super panjang. Bayangkan saja, sebuah film dengan hanya melibatkan manusia perlu beberapa kali take hingga didapat adegan yang sempurna di mata sutradara, bagaimana dengan sebuah film sedangkan lakonnya adalah binatang hidup? Butuh ketelatenan yang lebih dari biasanya, serta kesabaran yang tak main-main dalam melatih duo pemeran June dan Kopi. Bahkan beberapa ulasan di laman pencarian tentang film ini menuliskan, para kru berusaha menghadirkan suasana yang semirip mungkin dengan setting film agar para anjing pemeran June dan Kopi mudah hapal dan beradaptasi dengan baik saat proses pengambilan gambar yang sesungguhnya.

  1. Momen manis yang hadir dalam beberapa adegan berasal dari kisah nyata

Menurut sang sutradara, beberapa adegan dalam film ini lahir karena interaksinya dengan anjing-anjing peliharaannya.

Adegan seperti duduk di luar bersama, mengantarkan Karin di tangga, atau saat June menunggu bayi Karin di depan kamar. Secara pribadi banyak sekali adegan manis yang sangat terasa sisi humanisnya dan betul-betul memberikan gambaran yang indah tentang persahabatan antara hewan dan manusia.

  1. Karakter dalam film ini bisa dengan mudah kita temui dalam keseharian

Kisah pertemuan Aya dan June hadir saat pernikahan Aya dan Ale dalam keadaan datar, tidak bisa dikatakan terlalu baik, tapi buruk pun tidak. Karir Aya sebagai komikus mandeg karena beberapa karya yang ditolak oleh penerbit, pasutri Aya dan Ale yang telah menikah cukup lama namun belum dikaruniai momongan. Bukankah hal-hal ini adalah konflik yang sangat mudah kita temui dalam keseharian.

Jika beberapa orang melarikan diri dengan menjalani hobi maupun kesenangan yang mampu meningkatkan mood maupun produktivitas mereka, tapi Aya memilih melarikannya dengan menghabiskan waktu bersama hewan peliharaan.  Yang justru interaksinya dengan June dan Kopi justru melahirkan ide serta semangat baru dan menuangkannya dalam karya-karya.

  1. Kedekatan emosional antara manusia dan hewan peliharaannya

Siapapun yang telah menyimak film ini pasti akan sependapat dengan saya, bahwa ikatan emosional antara June dan Kopi kepada kelarga Aya dan Ale sangatlah kuat, pun sebaliknya.  Ada hubungan kasih sayang yang kuat dan pastinya tanpa menuntut balas jasa. Duuh, tak terhitung berapa kali saya harus menyeka air mata saya. Baik karena memang jalan ceritanya yang menyentuh, juga karena mengingatkan saya pada kucing-kucing yang hingga hari ini pernah dan selalu menjadi bagian dari keluarga dan menempati ruang tersendiri di hati saya.

Jadiii, buat kamu semua yang belum punya rencana apapun di akhir pekan ini, saya pikir tak ada salahnya untuk menonton film ini bersama keluarga tercinta.

Sosok bapak polisi yang wajahnya akrab sekali di penglihatan saya 😂

 

Judul film : June & Kopi

Sutradara : Noviandra Santosa

Pemain : Acha Septriasa (Aya), Ryan Delon (Ale), Makayla Rese Hili (Karin)

Genre : Drama keluarga

Rate : 7+

Star : 4/5

Ditributor : Netflix Originals

Durasi : 90 menit

Bahasa : Bahasa Indonesia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *