Mencari Teman, Sulit atau Mudah?

  • Whatsapp
banner 468x60

Ada yang berbeda dari penugasan kelas bunda cekatan kali ini. Sesuatu yang sebenarnya gak guweh banget.
Aselik waktu pertama dapat instruksi tugas ini tuh langsung kek ada batu besar yang dijatuhin tepat di hadapanku.

moOke, banyak orang ngejudge aku ini ekstrovert yang mudah banget cair sama orang, si tukang ramai di manapun berada. But, akan tetapi. Aku itu butuh waktu yang lama banget buat bisa kenal sama orang. Semacam ada proses screening panjang saat ketemu pertama kali sama orang baru.

Read More

Ini orang kek mana ya kepribadiannya, orang tipe kek gini kudu di perlakukan kek mana ya? Bahkan sampai kadang aku tuh bisa ngeliyat masa kecilnya dia itu seperti apa. Cocok gak ya aku temenan sama dia, dengan aku yang kayak gini bisa gak ya buat akrab sama dia. Daaan banyak banget pertanyaan lain yang muncul saat aku ngeliyat seseorang jatuhnya ekspresi di wajahku tu kayak orang galak, judes, dan banyak orang berpikir seolah ada perisai tebal yang ngehalangin orang buat ngedeketin akuh.

Walaupun jika pada akhirnya aku bisa akrab sama orang baru, pencitraan pertama mereka bakalan jauh banget dengan apa yang mereka rasakan saat tahu borok-boroknya aku.

Naaaah, ekstrimnya tugas pekan ini, kami itu diminta nyari minimal lima teman kami di belantara hutan kupu-kupu buat diajak kenalan. Istilahnya semacam mengenal lebih dekat teman sesama petualang di kelas bunda cekatan ini. Saling menyapa dan bertanya apakah kebutuhan belajarnya sudah cukup terpenuhi di luasnya ilmu yang tersedia di kelas bunda cekatan ini.

Di hari pertama penugasan, notif inbox di facebook saya berdering tiada henti. Entahlah teman-teman ini random inbox atau memang sudah mengenal saya sebelumnya hanya saya gak nyadar pernah berinteraksi via dunia maya dengan teman-teman ini.

Cara teman-teman ini memperkenalkan diri pun beragam. Ada yang langsung tanpa prakata menyodorkan list pertanyaan dan meminta saya menjawabnya, ada yang meminta saya mengisi survey online buatannya dengan tajuk “Survey Tajuk Kebutuhan Belajar Saya”, tapi tetap ada pula yang dengan sopan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, menanyakan kabar saya, baru kemudian masuk ke inti pembicaraan sebagaimana instruksi dalam tugas.

Dalam mengerjakan tugas ini, saya cenderung pasif, dalam arti tidak turut bergerilya, sebagaimana teman-teman yang lain. Tapi lebih kepada menjawab undangan perkenalan yang telah masuk pun jika saya rasa cara teman-teman ini berkenalan masih dalam koridor cara yang sopan dan bukan “menodong”.

Melirik kembali perjalanan telur hingga sampai ke tahap ulat hari ini, main besar tema belajar saya adalah HOSPITALITY. Semakin saya banyak mendengar, membaca, mencuri pengalaman dari para senior dan guru-guru saya, pandangan saya akan HOSPITALITY semakin beragam dan kaya.

Benang merahnya yang bisa saya tarik adalah, HOSPITALITY adalah seni. Yup seni, bukan lagi hadir sekadar sebagai sebuah ketrampilan.

Bagaimana bisa dikatakan sebuah seni? Bukankah melayani orang, mendengarkan orang, turut hadir dengan sepenuh jiwa raga saat kita berhadapan dengan orang lain adalah seni? Seni kita berkomunikasi dengan makhluk selain kita.

Banyak orang terkesan tergesa dan masih memaksakan diri untuk memenuhi kebutuhannya terlebih dahulu walaupun dipikirnya, dengan cara ini juga telah menyengangkan lawan bicaranya.

Saya sendiri memilih menjadi anomali dengan tidak turut mengikuti arus. Karena saya percaya, esensi tugas kali ini bukan terletak pada seberapa banyak kita mendapat teman baru dari perjalanan panjang di hutan kupu-kupu, melainkan bagaimana kita bisa mengoptimalkan pertemanan, jejaring, lalu saling menguatkan ikatan untuk bersinergi mencapai goals akhir yang ingin kita capai, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari komunitas.

Bukanlah fokus jika kita terjebak untuk terlalu fokus pada banyak hal, pertemanan bukanlah dibentuk hanya dari hitungan hari, melainkan dari banyaknya lintasan peristiwa yang terjadi di antara mereka, entah saling menguatkan atau justru saling meregangkan.

Selamat memaknai arti pertemanan buat kamu,
Salam dariku, temanmu yang selalu mendoakan kebaikan dan keberkahanmu.

Manokwari, 15 Maret 2021
Sennah helwah diriku, tumbuhlah baik selalu, dan jadilah kawan terbaik bagi sahabatmu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *