Menjadi Manusia Reflektif

  • Whatsapp
banner 468x60

Sokrates mengatakan :

“Hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak dijalani”

Read More

Semacam penegasan bahwa hidup yang tanpa refleksi seperti hidup seperti seorang robot.

Jadi sebenernya, refleksi itu apaan sih?

Semacam praktik pijat kah? Mengandalkan pijat di titik-titik syaraf tertentu demi mendapatkan kebugaran dan kesehatan yang prima?

Awokwokwok… gak gitu juga kali, Nek!

Katakanlah refleksi adalah belajar dari apa yang pernah kita pelajari.

Secara etimlogi refleksi berasal dari bahasa latin yang berarti membungkuk ke belakang. Di masa sekarang, kita bisa mengartikan refleksi sebagai tindak berpikir atas apa yang telah dipelajari atau dilakukan sebelumnya, dengan harapan seseorang belajar dari pengalaman, kegagalan, maupun meningkatkan performa demi kesuksesan di masa mendatang jika menjumpai keadaan yang kurang lebih sama dengan yang pernah dialami.

Setidaknya dengan melakukan refleksi, kita melatih diri untuk semakin bijak, senantiasa mengambil hikmah dari apapun yang dipelajarinya, lalu pada puncaknya berusaha membagikan apa yang telah dipelajarinya tersebut.

Tahap inilah yang saat ini saya dan teman sesama mahasiswi kelas bunda cekatan ibu profesional tengah jalani. Memasuki pekan-pekan akhir tahap ulat, kami diminta melakukan refleksi diri atas apa yang telah kami pelajari di tahapan sebelumnya.

Ada lima pertanyaan dasar yang diajukan kepada kami, yaitu:

  1. Apakah makanan yang kudapatkan telah sesuai dengan kebutuhanku?
  2. Apakah berimbang antara makanan utama dengan cemilan yang kudapatkan dalam proses petualangan di hutan kupu-kupu?
  3. Apa yang membuatku bahagia belajar dan melalui proses ini?
  4. Bagaimana dengan strategi belajarku?
  5. Apa yang harus kutingkatkan lagi?

Lima pertanyaan yang bisa memicu timbulnya aneka pertanyaan dan ragam jawaban.  baiklah, satu per satu akan saya coba jawab pertanyaan yang menggelitik tersebut.

Makanan yang kudapat

Tema besar belajarku adalah segala sesuatu berkaitan dengan HOSPITALITY. Sejauh ini  belum ada kawan yang mengambil tema sama denganku. Di tahap pencarian keluarga, aku mencari keluarga yang memiliki kekerabatan setidaknya hampir dekat dengan tema yang kupilih yaitu keluarga komunikasi, karena menurutku ketika kita memutuskan untuk berkecimpung di dunia hospitality kemampuan dasar yang penting untuk dimiliki, salah satunya adalah komunikasi.

Porsi setiap makananku

Berhubung tema yang kumiliki bukan tema yang umum sehingga tidak ada satupun dari teman petualang yang memilih tema yang sama denganku, hal ini berimbas pada ketidakcukupanku memperoleh makanan sesuai dengan kebutuhanku walaupun beberapa ilmu yang dibagikan oleh teman-teman beririsan dengan tema besarku, seperti teknik komunikas dan manajemen waktu. Tetapi dalam hal ini, proses belajar mandiriku lebih mendominasi daripada ilmu yang kudapat dari belantara hutan kupu-kupu, yang artinya porsi cemilan yang kudapat masih lebih besar daripada makanan utama yang tersedia.

Kenapa aku bahagia

Sejak memutuskan melanjutkan langkah untuk terus belajar di institut ibu profesional, di titik itulah aku memutuskan untuk senantiasa menjaga kebahagiaanku. Aku memiliki keluarga yang fully support dengan semua keputusanku, aku dikelilingi teman-teman dengan energi dan “kelaparan” yang sama denganku, aku difaslitasi dengan ragam media belajar serta kebebasan untuk memilih, menolak, atau mengendepkan apa yang ingin aku prioritaskan. Salah dua kebahagiaan yang lain adalah, meskipun aku tak mendapat banyak keranjang yang sesuai dengan apa yang kumau, aku bisa membagi isi keranjangku dengan teman-teman yang ternyata juga membutuhkan apa yang ada di dalam isi keranjangku, walaupun hal tersebut gak secara langsung relate dengan peta belajarku.

Strategi yang aku dapatkan dan aku terapkan

Layaknya memasuki sebuah hutan, hamparan yang luas tersaji aneka macam isi dan kekayaaan. Dengan berusaha fokus dengan kebutuhan utamaku, mengecangkan ketat waktu untuk sekadar berjalan-jalan di sekeliling hutan untuk melemaskan sedikit ketegangan namun tetap kembali pada track yang benar sesuai jalur pendakian agar perjalanan tetap dapat diteruskan dan masih memiliki energi yang cukup saat tiba di tujuan akhir kelak.

Yang aku pertahankan untuk selalu meningkat di setiap waktu

Aku gak menyangkal kalau ada pepatah bijak mengatakan, “Practice make perfect”, dalam bidang ilmu yang aku ambil, berlatih dan menempa diri dengan pengalaman langsung adalah cara paling jitu untuk senantiasa mengasah kemampuan. Salah seorang guru tamu yang hadir dalam keluarga komunikasi kami mengatakan, “Akan terasa bedanya orang yang berlatih sehari lima kali dengan yang hanya berlatih lima hari sekali”. Sebuah tamparan keras yang menjadi cambuk untukku senantiasa up grade diri dengan jalan berlatih terus, terus, dan terus.

 

Banyak buku filsafat yang kubaca di mana tertulis bahwa ilmu itu ibarat kaca atau cermin, dia akan senantiasa memantulkan isinya sebagaimanapun keadaannya. Pola pemikiran yang reflektif  jika disikapi dengan cara yang benar dan tepat, akan menggiring seseorang untuk bisa menyikapi semua keadaan dengan cara yang tepat. Tidak lagi menggunakan prasangka tapi berpijak pada kejernihan pikiran.

Memang benar jika sesekali kita perlu menengok ke belakang, belajar dari nilai-nilai kehidupan yang telah lewat agar kelak kita dapat memetik buah kebijaksanaan.

Mari kita menjadi manusia reflektif, bukan berlomba menjadi manusia yang pintar, karena di usia dunia yang makin tua, dia butuh semakin banyak orang bijak agar ia tetap berputar dengan keseimbangannya.

Manokwari, 29 Maret 2021

Puspa Fajar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *