Menyelami Hakikat Masalah

  • Whatsapp
banner 468x60

Konon ceritanya, ada sekawanan anjing liar yang tinggal di suatu tempat penyelamatan atau rescue.
Tidak sedikit yang tinggal di sana sedari masih dalam kandungan induknya hingga ia menjelang dewasa.

Para anjing hidup berkelompok berdasarkan kebiasaan dan kebisaannya masing-masing. Para anjing penghibur, anjing petarung, anjing penjilat, atau bahkan penyendiri alias gak bergabung di sini dan sana.

Read More

Para anjing penghibur, hampir setiap hari dihabiskan dengan melolong dengan pekikan yang menurut mereka sangat merdu. Kumpulan anjing petarung, setiap malamnya mereka berkerumun di suatu sudut ruangan untuk merencanakan kabur dari rumah rescue karena sudah bosan dengan segala rutinitas yang gak menantang sedikitpun buat mereka.

Namun ada seekor anjing penyendiri yang tak bergabung dengan siapapun golongan di sana.

Anjing tua yang cukup disegani para anjing karena sifatnya yang unik. Dia yang tidak sibuk dalam kumpulan manapun layaknya kawan yang lain, karena pikirannya sudah sibuk dengan memikirkan hakikat pagar yang selama ini mengurung mereka di dalam rumah rescue.

Cerita para anjing di atas, seolah menampar kita bahwa, seringnya kita itu sibuk dengan banyak hal gak penting dalam hidup. Sesuatu yang harusnya gak prinsip tapi malah menguras waktu dan emosi kita lalu ujung-ujungnya hidup kita terasa jadi gak optimal.

Seorang leader bisa jadi hanya akan fokus bagaimana anak buahnya selalu nurut dan patuh apapun titahnya. Gak peduli lagi orang di bawahnya suka atau rela gak ya mendapat perlakuan yang ia inginkan.

Pun dengan demikian seorang bawahan atau anggota tim, mereka akan mudah meremehkan pimpinan yang dirasa gak punya kapabilitas sekeren diri mereka.

Ketika dua orang ini bertemu dan dihadapkan pada suatu permasalahan dengan probabilitas kemungkinan penyelesaian yang beragam, tidak jarang solusi yang diambil bukanlah yang menyentuh substansi dasar.

Ibarat sederhana, saat kita melihat anak menangis, respon yang diberikan adalah marah lalu memukul berharap sang anak takut dengan ancaman kita dan berhenti menangis. Padahal bisa saja si anak menangis karena lapar, cemas, atau kehilangan barang yang dicintainya. Tangisannya bisa jadi akan berhenti saat kebutuhannya terpenuhi. Bukankah menjadi lebih menyenangkankan dan menenangkan jika kita mencoba mencari tahu hakikat masalahnya, kita bisa saja mendapat akar masalah serta mencari solusi paling tepat.

Saat tertimpa masalah, mari kita cari hakikat dengan cara merenung dan mengingat kembali dari semua lintasan peristiwa yang telah terjadi. Harapannya kita akan menjadi lebih fokus dalam melakukan identifikasi dan menyusun langkah penyelesaian.

Jangan lupa berikan pula waktu sejenak bagi diri kita sebelum memberikan respon dan beraksi. Menyeimbangkan kinerja otak untuk tetap realistis dan emosi yang stabil di kondisi dan situasi apapun.

Seiring banyaknya masalah yang menghampiri, bertambah pula inspirasi yang kita temukan dalam menghadapi tantangan dengan model dan bentuk yang lain di masa mendatang.

Selamat menjemput masalah, selamat menemukan hakikat di balik kedatangannya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *