Sahabat Sejati

  • Whatsapp
banner 468x60

Menurut beberapa orang, saya adalah tipe ekstrovert yang sangat mudah bergaul. Menurut sebagian penilaian orang, menyebutkan saya memiliki banyak kawan karena sikap saya yang cenderung supel dan periang. Lalu, saya mengingat kembali. Berapa banyakkah teman yang betul-betul dekat dengan saya?

Dekat secara pribadi, di mana mereka tahu persis baik dan buruknya saya, tahu persis kegemaran saya yang suka ngupil dan kentut sembarangan. Atau mereka yang bisa membuat saya betul-betul tertawa lepas menceritakan segala kekonyolan dan kebodohan.

Read More

Ternyata, di masa sekolah dan kuliah, saya tidak memiliki banyak teman dekat dengan kategori tersebut di atas.

Saat SMP teman dekat saya, ya teman sebangku saya, pun demikian saat saya masuk sekolah menengah. Dapat dikatakan hingga hari ini saya masih berhubungan baik dengan beberapa dari mantan teman sebangku ini.

Beranjak kuliah, saya memiliki satu geng perempuan di mana kami sering hangout bersama, tapi kembali lagi, hanya satu dua saja yang hingga hari ini masih keep in touch bukan sekadar sapaan basa-basi belaka.

Dunia saat ini sudah tumbuh dengan sedemikian hebatnya. Banyak sekali muncul kabar, dari kawan jadi lawan. Egoisme manusia tumbuh semakin paripurna. Hubungan antar manusia cenderung kering dan gersang, tingkat persaingan semakin tinggi sejalan dengan laju teknologi yang semakin tak terbendung memaksa manusia untuk seminim mungkin melakukan interaksi secara langsung.

Lupakan tatap muka atau sentuhan personal semacam budaya salaman yang seharusnya mengakar kuat sebagai ciri khas bangsa kita. Kehadiran Anda cukup diwakilkan melalui sebidang layar datar bertajuk monitor.

Menjadi sahabat di saat suka dan berkeluangan harta adalah hal wajar dan lumrah terjadi pada interaksi banyak orang. Namun bisa jadi hal langka saat masih bertahan menjadi sahabat jika kondisimu berada dalam segala keterbatasan. Esensi sahabat menjadi tergerus, kehilangan intisarinya di dunia yang lacur bengkok. Lebih seringnya, label sahabat dibungkus dengan harapan plus pamrih.

Idealnya, persahabatan dua arah terdiri dari setidaknya dua orang yang menikmati rangkaian proses kebersamaan sebagai bagian dari tugas kehidupan mereka.

Ketika ada orang yang mau menyediakan telinga dan hatinya untuk mendengarkan perasaan Anda yang paling dalam. Mendukung langkah kecil saat Anda berjuang, mau menegur saat Anda berbuat salah tapi juga dengan ikhlas memaafkan saat Anda berada di fase kegagalan.

Ketika ada orang yang melecutkan Anda untuk menjadi pribadi yang bertumbuh, mendorong Anda memaksimalkan semua potensi baik Anda, lalu merayakan keberhasilan Anda seolah-olah hal tersebut adalah keberhasilannya sendiri.

Sslamat, artinya Anda berhasil menemukan sahabat sejati Anda.

Namun! Sebelum Anda menemukannya, sudahkah Anda berusaha menjadi sahabat sejati bagi orang lain?

Manokwari, 3 Februari 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *