Sampul Buku

  • Whatsapp
banner 468x60

Pernahkah Anda merasa dilabeli sesuatu oleh orang lain yang sebetulnya ia belum cukup kenal dekat dengan Anda? Saya beberapa kali mengalami hal tersebut.

Saya lupa bagaimana detilnya, yang saya ingat adalah, saat seseorang yang saya kenal sebatas hanya nama karena kami bernaung dalam satu organisasi yang sama. Secara gamblang dia melayangkan opininya.

Read More

“Kamu itu tidak cukup berempati pada nasib orang kecil dan gak pernah merasakan derita dan susahnya jadi wong cilik.”

Sebuah kalimat yang dilayangkan dengan nada mengintimidasi dan tatapan yang tajam.

Saat itu saya tidak cukup paham atas dasar apa tuduhan itu digunakan untuk mendeskripsikan saya di matanya.

***

Saya teringat pada sebuah video yang pernah tanpa sengaja saya tonton di laman sosial media.

Video ini mengisahkan seorang pegawai kantoran yang membeli sebuah makanan, di mana ia berpapasan dengan seseorang yang tidak cukup baik dalam hal penampilan. Kedua orang ini tanpa sengaja bertemu kembali di dalam kereta yang akan mengantarkan mereka kembali ke tempat tujuan masing-masing. Sepanjang perjalanan sang pegawai kantoran dengan santai mengunyah makanan yang telah dibelinya, tapi di saat yang sama pula sang orang lusuh mengambil makanan yang sama dengan yang dimilikinya. Bahkan orang lusuh itu mengambil makanan di hadapannya dengan tersenyum dan menyodorkannya pada sang pegawai kantoran, dengan gesture menyilahkan sang pegawai kantoran menikmati pula makanan tersebut. Di stasiun akhir mereka akhirnya harus berpisah, sang orang lusuh terlebih dahulu bangkit dan bergerak meninggalkan bangku kereta. Saat memeriksa kembali barang bawaannya, sang karyawan baru menyadari bahwa makanan yang dibelinya masih utuh ada di dalam tas miliknya.

Dari video tersebut ada pelajaran berharga yang membekas buat saya, betapa seringnya kita menilai orang lain dari sudut persepsi kita dan dengan sengaja mengabaikan fakta di balik sesuatu.

Suatu hari, saya pernah menegur rekan dalam satu tim saya karena kinerjanya yang belum maksimal, saya mengatakan padanya, jika saya yang ada di posisinya, saya akan berusaha memaksimalkan segala kemungkinan agar target dapat saya capai. Lalu, apa jawabnya?

“Mbak Sasha mah enak, ada mobil buat memudahkan mobilitas, bisa nyetir sendiri jadi bisa leluasa buat gerak ke sana dan ke sini, gak ngerasain susahnya lapangan. Mbak pinter ngomong, temen Mbak juga ada di mana-mana jadi gampang buat bina relasi,” keluhnya saat itu.

Sebetulnya pada framing tersebut, bisa jadi dia hanya melihat kondisi saya saat ini. Dia mungkin belum tahu, jika dahulu saya pun kelimpungan untuk berkendara mengejar segala target yang saya punya. Saya butuh waktu lama untuk bisa memiliki keberanian memulai percapakan dengan orang baru. Sebetulnya jika saya bisa membalikkan pernyataannya, saya akan menjawab,

“Ini bukan sekadar fasilitas, tapi ada semangat, kegigihan, dan tanggung jawab untuk bisa paripurna dalam menyelesaikan tugas.”

Saya sadar sepenuhnya bahwa saya tidak dapat menyalahkan sikap dan opininya tersebut.

Ketika saya masih bekerja menjadi auditor junior pada Kantor Akuntan Publik di Semarang saya juga pernah menyatakan hal yang sama pada atasan saya. Pak Han atasan saya saat itu tertawa menanggapi pernyataan bernada sama yang saya ajukan.

“Jangan lihat saya yang sekarang, tapi lihatlah bagaimana proses yang saya lalui untuk bisa berdiri kokoh menjadi salah satu auditor yang paling banyak dicari klien.”

Ayah saya adalah seorang Pegawai Negeri Sipil dengan background Sarjana Hukum, Ibu saya seorang Sarjana Pendidikan yang menjadi guru bahasa Indonesia di suatu SMP Negeri di Semarang yang saat kepindahan Ayah saya ke Tegal, beliau memtuskan untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Saat keduanya meninggal di waktu yang hampir bersamaan, saya belum genap lulus dari bangku kuliah. Saya terpaksa mengambil alih tugas dan peran pengasuhan atas adik saya. Melamar kerja serabutan dan berakhir menjadi kasir pada sebuah toko komputer. Gaji saya enam ratus ribu rupiah kala itu. Dalam sebulan saya harus bertahan dengan uang tersebut untuk menyukupi beban hidup kami berdua beserta pontang-panting mencari tambahan penghasilan untuk melunasi beberapa kewajiban yang orang tua kami wariskan.

Saya sengaja menghindar dari teman-teman yang “ngajak jajan”, baru akan bergabung jika benar-benar ada yang ulang tahun dan “nraktir”.

Perlahan Tuhan menunjukkan belas kasihannya pada saya, surat lamaran yang saya kirimkan pada sebuah BUMN cukup ternama di negeri ini menjadi jalan pembuka rezeki yang lebih luas. Di waktu terebut, saya dan adik saya sudah cukup mampu bernapas lega dan dapat makan serta hidup dengan sedikit lebih layak.

Semua pengalaman hidup tersebut membuat saya sedikit jengah saat menemui kaum-kaum oportunis yang hanya mengejar perolehan “cuan” tanpa ada perasaan iba pada kondisi minus di sekitar mereka.

Anak-anak saya pun tumbuh menjadi generasi mudah iba pada mereka yang susah. Sebab kisah yang sering saya ceritakan sebagai pengantar tidur mereka saat saya pun pernah berada di posisi bawah.

Lalu, saat ada komentar yang masuk dan menuduh saya kurang berempati pada orang kecil karena saya tidak pernah hidup susah, hal ini tetap saya jadikan bahan berkaca, mungkin seperti itulah “sampul” yang ia lihat tentang saya.

 

Manokwari, 6 Januari 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *