Saung Udjo

  • Whatsapp
banner 468x60

Jika anda tengah berlibur ke kota kembang, tak ada salahnya jika memasukkan “Saung Angklung Udjo” ke dalam  itinery perjalanan anda. Saung Angklung Udjo (SAU) adalah tempat pertunjukan, pusat kerajinan tangan dari bambu serta workshop instrumen musik dari bambu. Berdasarkan beberapa literasi saya mendapatkan informasi bahwa SAU didirikan tahun 1966 oleh Udjo Ngalegana dan istrinya  Uum Sumiati. Saya tidak akan melakukan sebuah review terkait tempat wisata budaya dan edukasi ini, saya akan mencoba mengajak kita semua melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. 

Ada karakteristik menonjol yang saya lihat dari keseluruhan rangkaian pertunjukan SAU, yaitu disiplin dan profesionalisme. Tengoklah waktu pertunjukan yang selalu dimulai tepat pukul 15.30 tidak kurang dan tidak lebih. Saya satu kali melihat pertunjukan mereka dan suami saya entah sudah berapa kali melihat pertunjukan di sana. 

Pagelaran selalu digelar setiap hari dan hanya libur selama dua hari saat memasuki masa hari raya Idul Fitri, artinya dalam satu tahun mereka menggelar sebanyak sedikitnya 364 kali, melibatkan ratusan pemusik dan penari. Menjadi sebuah budaya yang mengakar sangat kuat karena dilakukan secara konsisten. 

Nilailah kedisiplinan saat mereka latihan, bisa saja sudah melampaui 10.000 jam terbang telah mereka capai sehingga selalu mengasilkan kualitas pertunjukan yang profesional. Saya yakin tanpa disiplin yang ketat mustahil mereka sanggup menggelar pertunjukan dengan sangat baik. 

Ada sebuah tulisan menarik yang saya abadikan dalam lensa kamera saat menjejakkan kaki dikafe SAU,

What you are, what job you have chosen. Do it with your love… Without love, you are dead before you die…”

Nampak sekali sang pendiri berhasil mengidentifikasi dirinya dengan profesinya yang dilakukan dengan penuh cinta, karena mungkin baginya tanpa cinta sama artinya dengan tiadanya kehidupan.

Saya melihat setiap komponen di dalamnya diajari untuk mengadirkan cinta dan mencintai apa yang mereka lakukan. Mereka seolah terlatih untuk mengerjakan setiap hal dengan sepenuh hati sehingga menghasilkan sajian pertunjukan yang kental nuansa profesionalisme serta layanan prima.

Home sweet home, sebuah pepatah lawas yang sangat populer menjadi jawaban yang keluar dari mulut seorang penari saat saya tanyakan padanya perihal apa yang membuatnya betah bergabung di SAU. Rumah adalah segala-galanya bagi keluarga. Dengan kehadiran SAU anak-anak pengisi pertunjukan mendapat uang saku untuk biaya pendidikan mereka karena banyak anak-anak tersebut tergolong belum mampu secara ekonomi. Mereka tetap bisa mengenyam pendidikan formal yang layak, beraktivitas dengan sehat serta menjadi generasi yang penuh percaya diri. Nampak seperti sebuah konsep Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah entitas bukan?

Berbicara mengenai rumah, bagi seorang anak rumah idealnya menjadi jenjang edukasi pertama sebelum ia terjun ke dalam dunia pendidikan formal dan masyarakat. Dan bagi orangtua rumah bisa menjadi guru terbaiknya, laboratorium hidup guna menempa mental dalam memahami kolerasi hubungan antar manusia. Wajar saja jika banyak ahli melihat rumah sebagai sebuah “Leadership Training” bagi seorang pemimpin, asumsikan saja bagaimana seorang dapat memimpin sebuah entitas, organisasi, perkumpulan, komunitas atau apapun itu yang sifatnya menghimpun banyak orang jika di rumahnya sendiri saja ia sulit dipimpin dan memimpin. Hipotesa banyak ahli mengatakan, ada korelasi positif antara sukses keluarga dan sukses pribadi. 

Ibarat kata pembangunan rumah, Ayah berperan menjadi arsitek yang merancang denah rumah, arah hadap rumah dan pekerja dalam membangun pondasi. Bahu membahu bersama Bunda membangun tiang pancang moral dan dinding kompetensi agar menghasilkan anak-anak dengan pribadi yang kuat di masyarakat. Hal terbesar yang dapat diperbuat Ayah pada anak-anaknya adalah dengan mengasihi Ibu mereka, begitu pula sebaliknya.

Menghadirkan cinta bukan sekedar ucapan belaka namun wujud nyata. Menjadi bagian dari anggota keluarga artinya mengambil bagian dari sebuah keindahan, yang menjadi kekuatan untuk kehidupan serta selalu menjadi alasan untuk kita bahagia. Mari cintai keluarga kita dengan semangat profesionalisme dan bersiaplah menerima pelayanan prima yang dipersembahkan oleh seluruh anggota keluargamu.  

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *