Titah Romo

  • Whatsapp
banner 468x60

“Yen lagya kataman bendu,

Sumendheya marang Gusti,

Read More

Sabar tulus lan tawakal,

Ikhtiar datanpa keri,

Tansah eling lan waspada,

Muji donga siyang ratri.”

Suara Romo yang menyenandungkan tembang macapat terdengar lirih masuk menerobos setiap sela dinding rumah joglo kami. Tembang kinanthi, sebuah tembang yang sudah kuhapal betul lirik dan nadanya. Karena begitu seringnya Romo menyanyikan tembang tersebut.

Saat aku kecil, Romo selalu berkisah betapa mulianya makna yang terkandung dalam setiap tembang Jawa membuat kami empat bersaudara hapal betul makna dari setiap tembang yang Romo senandungkan, tembang kinanthi salah satunya. Menurut Romo, tembang jenis ini sebagai sebuah teladan dan nasihat yang baik dari orang tua kepada anak-anaknya.

***

“Nduk, yuswomu sakniki sampun cekap, sudah waktunya kamu memikirkan jodohmu.”

“Mung, Biyung pesen. Ojo nganti pathuk wong lanang adoh yo, Nduk.”

“Bibit, bebet lan bobot tetep nomer setunggal,” Biyung membuka percakapan yang sungguh ingin kuhindari, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Kutatap wajah Biyung, perempuan ini masih terlihat ayu di usia paruh abadnya. Kalau tidak kebaya, maka batik yang akan menjadi seragamnya berkhidmat di rumah, melayani Romo yang telah pensiun sebagai carik di kampung kami. Duduk bersila di samping Biyung, Romo masih setia dengan klembak menyan yang dihirupnya pelan-pelan. Hidungku sudah sangat kebal dengan aroma khas yang keluar dari kepulan asapnya.

“Nggih, Biyung. Kulo dereng pirsan naksir tiyang jaler,” jawabku. Berharap Biyung tak menangkap kebohongan di sana.

“Kulo pamit nggih, Romo. Bade istirahat,” pintaku berusaha menghindar dari pembicaraan.

“Yo wes, sampun mboten kesel yo, Nduk. Nyambut ndamel ojo malah maraki awakmu rekoso,” jawab Romo.

“Nggih, Romo. Pareng,” dengan tergesa aku kembali ke kamar sebelum tubuhku bereaksi lebih lanjut yang mampu memancing kecurigaan Romo dan Biyung.

Terlahir dari keluarga Jawa yang masih memegang tradisi kuat membuatku tunduk dan patuh pada Romo dan Biyung. Tak pernah sedikit pun terlintas dalam pikiranku untuk membantah perintah mereka.

Pikiranku menerawang jauh, bagaimana caranya aku memberitahukan pada mereka ihwal lamaran Bang Andi. Lelaki Bugis yang setahun terakhir ini menjalin asmara denganku, secara diam-diam tentunya. Sosok laki-laki yang cukup tampan menurutku, kulitnya sawo matang dengan mata yang bulat dan rahang yang tegas. Pertama kali mengenalnya saat ia berbelanja di toko Koh Aseng tempatku bekerja sebagai kasir di sana. Karena seringnya kami bertemu, bibit cinta pun perlahan tumbuh. Hingga di perjumpaan kesekian ia memintaku untuk menjadi kekasihnya.

Bukankah mendapatkan Bang Andi adalah suatu anugerah bagi perempuan sepertiku? Hanya seorang lulusan sekolah kejuruan dengan paras yang jauh dari kata menarik. Lihatlah badanku yang sedikit berisi, kulitku kusam karena jarang mendapat perhatian. Menjadi keberuntungan saat ada seorang lelaki menyatakan bahwa ia tertarik padaku?

“Dek, jadi kapanji aku bisa datang menghadap Romo? Sudah tak sabar aku meminangmu.” Tanyanya di suatu sore.

“Kau masih takut karena perihal aku tak sesuku denganmu kah, Dek?” lanjutnya.

“Memang aku bukan lelaki kaya yang sanggup memberikanmu uang pinai berjuta-juta, tapi tidakkah kau lihat ketulusanku selama ini, Dek?”

“Aku tau, Bang. Tapi untuk menghadap Romo dan bercerita padanya saja aku tak punya nyali.”

Kusudahi bincang kami dengan memaksakan diri untuk segera pulang. Aku tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin kan terjadi, misalnya Bang Andi tetap nekat meminta restu langsung pada Romo. Namun untuk melepas cinta pun tak sanggup rasanya.

Di kamar, aku kembali merenung membayangkan ujung kisah kasihku. Tak ingin bernasib sama dengan Mas Baswara yang memilih kawin lari dengan Uni Fitri karena tak kunjung mendapat restu dari Romo, hanya perihal masalah mereka tak satu suku. Atau nasib mas Cakra yang memilih kerja di luar kota demi menghindar dari Romo yang menolak perempuan pilihannya yang asli dari Simalungun. Sungguh habis akalku untuk menerka segala kemungkinan.

Belum puas melamun, terdengar suara pintu yang diketuk.

“Nduk, ayo metu’o, sek. Ono tamu, kui lagi nang ngarep karo Romo,” suara Biyung terdengar dari balik pintu.

Sungguh bukan hal yang wajar jika aku menerima tamu di malam hari seperti ini. Jangan-jangan?

Berpakaian seadanya, segera aku menuju pendopo rumah kami. Betul firasatku, saat kulihat sosok Bang Andi duduk berhadapan dengan Romo. Wajah mereka berdua sangat tegang, kulihat Biyung dengan raut wajah yang hampir sama.

“Lungguh’o, Nduk!”

“Kowe kenal karo wong lanang iki?” Romo sudah mulai menanggalkan kromonya, pertanda amarah mulai menguasai.

“Nggih, Romo. Rencang kulo,” jawabku terbata dan hanya berani menunduk.

Suara jangkring yang biasanya terdengar merdu kini nampak seperti musik yang begitu menyeramkan. Kepalan tangan Romo nampak dari sudut mataku, gelengan Biyung menjadi perpaduan yang pas untuk membuat suasana semakin tak nyaman.

“Dewanti? Kamu paham maksud pemuda ini datang ke sini malam seperti ini?” tanya Romo.

“Nggih, Romo,” jawabku sangat lirih.

“Pemuda ini, siapa namamu tadi? Andi? Datang melamarmu.”

“Sejak kapan kamu berhubungan dengannya?”

“Sudah satu tahun, Romo,” suara Bang Andi menginterupsi.

“Diam kamu! Saya tanya pada anak saya, bukan sama kamu!” bentak Romo.

“Betul kata Bang Andi, Romo,” jawabku dengan tetap menunduk.

“Kamu tahu apa syarat untuk menikahi putriku?” badan Romo beralih menghadap Bang Andi.

“Saya mengerti, Romo. Harus yang satu suku dengan Dewanti. Tapi saya cinta Dewanti, buat saya perbedaan suku bukan menjadi masalah berarti.”

“Ngapunten Romo. Wanti tresno Bang Andi, walaupun Wanti paham betul prinsip dan kekhawatiran Romo jika mendapat menantu orang di luar suku kita. Tapi tidakkah cukup Romo kehilangan Mas Wara dan Mas Cakra? Dan sekarang Wanti pun harus mengalami nasib yang sama dengan mereka? Pun dengan Dharma nantinya?”

“Ampun, Romo kalau Wanti lancang. Bukankah keluarga tetap akan menjadi keluarga sejauh apapun kita terpisah? Bakti kami takkan pernah berkurang jika itu yang selama ini Romo khawatirkan hingga melarang kami tinggal jauh dari Romo. Romo dan Biyung selamanya akan tetap menjadi orang tua, menjadi teladan dan tempat kami pulang tak peduli seberapa jauh kami meninggalkan rumah nantinya,” jawabku terengah.

“Pulanglah dulu, Bang! Hari ini bukan hari yang baik untuk kita membicarakan hal penting seperti ini.”

“Kulo pamit, Romo. Wanti perlu menenangkan diri, sebagaimana Romo pun perlu meredakan amarah Romo. Ngapunten, Romo.”

Kuseret kaki menuju kamar, mencoba menahan sekuat tenaga agar tak ada air mata yang luruh. Sejenak aku berhenti memandang potret yang terpaku di dinding ruang joglo. Wajah kami berenam yang tersenyum dalam damai. Entahlah apakah hari esok, aku masih sanggup tersenyum manis seperti nampak dalam gambar itu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *