Tulus dan Pelayanan Prima

  • Whatsapp
banner 468x60

Saat kami tinggal di Bandar Lampung, ada sebuah caffe yang berada tak seberapa jauh dari tempat tinggal kami. Dekorasinya cukup instagramable sehingga tak jarang kami jumpai muda-mudi yang datang dengan seabrek alat rekam diri.

Read More

Namun bagi saya yang senang dengan segala hal nan praktis, alasan saya memilih tempat ini karena memang makanannya enak, letaknya dekat dengan rumah serta fasilitas cuci mobil yang berada satu area dengan area caffe.

Saya bisa tenang kerja di depan laptop, anak-anak kenyang dan nyaman dengan suasana yang disuguhkan serta kami senang pulang kembali ke rumah dalam keadaan mobil wangi, bersih dan kinclong setelah kami paksa off road melalui jalur sekolah anak-anak.

Di luar itu semua, satu hal yang membuat saya salut dengan manajemen tempat tersebut adalah pelayanan prima yang mereka berikan. Sepertinya “We care” menjadi moto bisnis mereka. Jajaran manajerial bahkan rela turun tangan melayani para pelanggan. Dampak yang terasa nyata terlihat dari kualitas pelayanan para karyawan yang termotivasi untuk memberikan ketulusan pelayanan dari keteladanan pemimpin mereka.

Saya tidak tahu faktor mana yang lebih dominan, antara seringnya kami memesan menu yang sama atau memang tingkat pelayanan dan perhatian para karyawan pada para pelanggan yang sangat paripurna sehingga setiap kami datang dan menduduki pojok favorit kami yang hampir jarang berubah dari sejak kedatangan pertama kami, kalimat pembuka mereka hampir bernada sama.

“Selamat datang, Kak. Fish and chips serta jus organik tanpa gula dengan sedikit es batu seperti biasanya kan ya, Kak?” kalimat bernada sama yang akan diakhiri dengan senyuman serta diletakkannya uno bricks di atas meja kami.

Tulus bukanlah sebuah kata kerja yang mudah jika tidak diimbangi dengan iklim kerja yang kondusif dan keteladanan pemimpin. Bila kita bermurah hati dan bersedia melayani dengan tulus pada siapa saja maka kita akan tersadar bahwa akhirnya kita akan mendapati bahwa apa yang tersisa masih lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri.

Ada sebuah kata bijak yang tertempel di dinding cafe tersebut yang saya ingat dengan seksama.
“Melayani dengan tulus adalah bahasa yang dapat didengar orang tuli dan dilihat orang buta”.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *