Warisan Opa

  • Whatsapp
banner 468x60

“Apa maksudmu dengan mengatakan kau akan menikah?”

“Ini pasti hanya alasanmu saja untuk memenangkan hak waris dari Opa kan, Mas?”

Read More

“Tidak mungkin dalam waktu satu bulan tiba-tiba kamu sudah hadir membawa calon istri? Pasti dia, aku yakin bahkan untuk mencium perempuan itu pun pasti segan untuk kau lakukan,“ maki Pakde Broto, adik dari almarhum Ayah.

“Bukankah memang ini yang semua orang inginkan? Melihatku menikah dengan perempuan dan membawa dia di hadapan kalian?”

“Sudah cukup pembuktianku pada kalian, bahwa aku bukan gay sebagaimana yang selama ini Om tuduhkan,” teriakku tak kalah keras.

Berteriak, bahkan harus adu otot jelas bukan gayaku, terlebih berkonfrontasi dengan keluarga. Lahir sebagai sulung di keluarga Haditama memaksaku untuk lebih welas asih menghadapi adik-adikku, Rakas dan Rukmi. Semua pertengkaran kami ini bermula dari wasiat konyol yang Opa tinggalkan pada kami.

Persetan dengan isi warisan yang mengharuskan aku telah menikah untuk dapat memperoleh hak kepemilikan atas beberapa asset milik Opa. Jika tak ingat betapa culasnya Om Broto yang sudah sekian lama mengincar posisi Opa di perusahaan, sudah kutinggal jauh segala urusan warisan dengan syarat yang tak masuk akal itu. Sebuah klausul yang menyebutkan, jika hingga tiba waktu pembacaan hak waris di hadapan pengacara dan notaris aku belum membawa seorang istri, itu artinya aku belum cukup layak untuk meneruskan usaha Opa dan baik aku maupun adik-adikku tak berhak atas hak waris peninggalan Opa.

Rindang, wanita yang kubawa memang sosok yang asing bagi keluargaku. Mereka selama ini hanya melihatku terlalu mandiri dengan karirku sebagai pramugara dan melupakan urusan asmara. Sebuah pekerjaan yang tidak mewah untuk kalangan elite mereka. Bukan tanpa sebab aku memilih pekerjaan ini, setidaknya inilah satu-satunya pekerjaan yang membuat aku tak perlu terlalu lama berada di dalam rumah bersama Om Broto dan semua kemunafikannya.

Aku sendiri lupa kapan persisnya perkenalanku dengan Rindang, yang kuingat kami pernah terjebak dalam situasi yang hampir sama. Kami yang hampir terlambat karena shuttle bus yang mengalami kerusakan mesin sehingga menghambat beberapa menit waktu kami untuk tiba di terminal tujuan, lalu ternyata Rindang menaiki pesawat yang sama di mana aku harus bertugas menjadi awak kabin di sana, dan kami bertemu kembali di pintu kedatangan saat aku selesai bertugas yang rupanya ia pun baru saja kembali dari perjalanan dinasnya.

Rindang yang manis semakin manis dengan balutan gaun merah muda, riasan wajahnya yang natural, sedikit lesung pipi yang nampak saat ia tersenyum, semuanya melekat dengan pas. Satu kebiasannya yang baru kusadari setelah sekian banyaknya pertemuan dan pembicaran kami, adalah kebiasannya yang menatap lawan bicara dengan sepenuh hati, maksudku tak hanya telinganya saja yang mendengar, tapi seluruh badannya pun di arahkan terpusat pada sang lawan bicara. Dia tak pernah sibuk dengan gawai, media sosial dan sejenisnya, betul-betul hanya fokus pada lawan bicara di depannya. Satu hal yang membuatku begitu tersanjung dan nyaman saat berdiskusi dengannya.

“Kalau pramugara bukan cita-citamu, lalu sebenarnya apa yang kamu paling inginkan untuk saat ini, Mas?” tanyanya di suatu sore saat kami tak sengaja bertemu untuk kesekian kalinya di sebuah kedai kopi.

Setelah sedikit kuceritakan permasalahan keluargaku padanya, tentang Opa dan surat warisannya.

“Entahlah, sedari kecil hidupku sudah sangat monoton. Seolah Opa telah merencanakan semuanya dengan sangat rapi. Di mana aku harus bersekolah, bagaimana aku berbicara, apa yang harus aku kenakan. Semuanya nampak terbaca seperti buku yang terbuka,” jawabku.

“Opa bertindak seperti itu pasti bukan karena tak ada alasan sama sekali kan, Mas?”

“Entahlah, Opa bahkan seperti paham betul bagaimana masa depanku, sudah ada program yang terinstal untuk mengatur semua hidupku. Opa selalu berkata, suatu saat harus aku yang menggantikannya,” jawabku sembari menyesap kopi pahit di depanku.

“Aku sayang Opa, bagaimanapun beliaulah orangtua sambungku. Jika kecelakaan Bapak dan Ibu tak pernah terjadi, posisiku takkan sesulit sekarang.”

“Rakas dan Rumi masih terlalu kecil, dua anak kembar itu bahkan masih belum fasih menghitung rumus aljabar, jika memang saatnya tiba, salah satu dari merekalah yang lebih pantas menggantikan tugas Opa, aku hanya membantu menjaga hingga hak mereka akan tiba pada waktunya.”

“Ya, aku bisa merasakan hal yang sama. Ada seorang lelaki tua yang selalu datang di galeriku, dia berkata bahwa hidup tuanya sangat rumit. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang mengincar harta dan kedudukannya.”

“Hei, Mas? Aku ingat sekali lelaki tua itu pernah memintaku untuk melukis tiga bintang yang bersinar terang di antara padang savana. Katanya itu adalah perlambang cinta dan ketulusan dari orang-orang yang dicintainya.

“Lelaki tua itu beberapa kali menasihatiku tentang banyak hal baik. Salah satunya dia sering berucap bahwa jodoh itu seperti bintang, dia terlihat jauh dan berkilau di atas langit tapi kadang kita gak pernah sadar bintang itu sebenarnya dekat hanya sejauh jangkauan tangan kita saja.”

“Mas, bagaimana jika aku menolongmu? Aku bisa berpura-pura menjadi pasanganmu sekedar mengelabui pamanmu dan memenuhi syarat yang diajukan Opamu itu, kupikir tak ada salahnya untuk kita menjalin sebuah hubungan. Setidaknya satu sama lain dari kita belum terikat pada suatu hubungan dengan siapapun kan?”

Kulihat wajahnya dengan lebih seksama, semua bahasa tubuhnya masih sama dengan pertama kali aku bertemu. Entahlah hatiku terlanjur percaya padanya, tak sedikitpun kulihat kebohongan dari sorot mata perempuan manis di depanku.

“Ini sungguh-sungguh?” kataku memastikan.

“Ya, Mas. Ibarat sebuah kanvas, maka mulai hari ini kita bisa saling mewarnai kanvas itu dengan aneka warna dan goretan bersama.

Atas pembicaraan itulah, akhirnya sore ini kubawa Rindang menuju rumah Opa. Di hadapan adik-adikku dan Om Broto kukenalkan ia sebagai pasanganku. Ruang kerja Opa tak berubah cukup banyak dari sejak Opa tak lagi beraktivitas di sana. Mbok Yem memang kuminta untuk tak memindahkan semua barang peninggalan Opa.

Kulihat Rindang yang tengah menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruang kerja Opa. Matanya tiba-tiba terkunci pada sebuah titik.

“Mas? Sejak kapan lukisan ini berada di sini?”

“Lukisan di belakang kursi kerja Opa maksudmu?”

“Ya, lukisan itu.”

“Sudah lebih dari setahun sepertinya, Opa sangat menyukai lukisan itu.”

“Mas, coba perhatikan sudut kiri bawah lukisan itu.”

Perlahan aku melangkah mendekat pada lukisan yang dimaksud Rindang.

“RI, ada nama RI di sudut ini,” jawabku.

“Mas, itu lukisanku, masih ingat lelaki tua yang memintaku melukis tiga bintang? Lukisan inilah yang diminta olehnya.”

“Jadi selama ini, Opa secara tidak langsung telah mengatur pertemuan kita?”

Sebagaimana Opa yang seolah punya rencana yang terstruktur untuk semua jalan hidupku.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *