Welcome home, Kids

  • Whatsapp
Welcome home, Kids
banner 468x60

Bisa disebut saya ini adalah kaum pecinta kucing, entah faktor ada kata Pus di awalan nama saya, atau memang doktrinisasi sedari dini dari Mama.

Tak terhitung banyaknya kucing yang datang dan pergi dari rumah Mama, beberapa memilih tinggal, beberapa memilih menjadikan rumah kami sebagai tempat singgah sementara waktu.

Read More

Nah kebiasaan saya untuk menyayangi hewan mungil nan menggemaskan ini rupanya menular pada dua jenderal kami, Kak Nad dan Adek Yeza.

Mereka berdua menunjukkan ketertarikan yang sama, sama-sama menyayangi hewan berkaki empat ini. Saya tidak terlalu paham ada hubungan apa antara kami yang pecinta kucing dengan kucing-kucing yang sering mendatangi rumah kami.

Saat tinggal di Bandar Lampung, ada seekor kucing peranakan ras himalaya yang datang dengan sendirinya dan bermukim di rumah. Tidak sampai satu tahun “Bule” sang kucing ini tinggal dan menjadi salah satu anggota keluarga, Bule kabur dari kandangnya dan kami temukan dia di selokan musholla dekat rumah kami, sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Pindah tempat tinggal ke Pematangsiantar, qadarullah kami mendapat hadiah sepasang anabul kakak beradik yang diberi nama Idot dan Mimot. Nama pemberian sang tuan, pemilik salah satu restoran yang kami sambangi saat berkunjung ke Medan. Pemilik resto memberikan dua ekor kucingnya yang saat itu masih berusia sekitar 3 bulan karena tertarik melihat interaksi Kak Nad dengan kucing-kucing yang memang secara bebas tinggal di sana.

Saat kami harus pindah kembali dan menuju Manokwari, kedua anabul sudah siap untuk kami bawa hijrah. Qadarullah, vaksin dan cek kesehatan sudah rutin kami lakukan, muncul kabar tidak cukup sedap didengar. Manokwari adalah salah satu kota yang memberlakukan bebas rabies, dan ada pelarangan bagi anjing, kucing, serta kera untuk dapat masuk ke dalam wilayah Manokwari.

Entah berapa banyak air mata kami bertiga yang menganak deras saat harus mengembalikan duo anabul kepada pemilik sebelumnya. Nadia butuh waktu satu minggu penuh untuk bisa benar-benar merelakan Idot dan Mimot kembali ke Medan. Mungkin ini menjadi salah satu pertimbangan dari Ayana yang tidak mengizinkan kami memelihara kucing saat masih tinggal di Manokwari. Ayana tak ingin melihat kami kembali bersedih karena harus dipisahkan dengan hewan yang telah menjadi bagian anggota keluarga.

Pun misalnya dengan terpaksa Ayana mengijinkan kami memelihara kucing kembali, si kucing harus berkelamin jantan untuk meminimalisir laju produktivitas kehamilan kucing.

Tapi ….

Manusia berencana, Tuhan yang berkehendak kan?

Allah menjawab pinta saya dan anak-anak untuk dapat memelihara kucing kembali. Di suatu malam selepas Ayana menyetorkan limbah rumah tangga, beliau masuk ke dalam rumah diikuti empat ekor anak kucing yang saya taksir masih berusia satu bulan. Tidak hanya satu pemirsah, tapi sungguh-sungguh empat ekor dengan bulu yang hampir mirip warnanya.

Menjadi kejutan yang sangat menyenangkan buat anak-anak. Seperti membuktikan ujaran Bu Septi, bahwa ada tiga hal yang tidak mungkin ditolak oleh anak-anak, hadiah, permainan, dan kejutan.

 

Manokwari, 12 Januari 2021

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *